Bahagia Ala Murid SDN Banyuasih 3

Dunia anak adalah dunia penuh keceriaan dan semangat. Setiap kalimat yang mereka ucapkan selalu diakhiri tanda seru karena senantiasa ada antusiasme di sana. Energi mereka seolah tidak ada habisnya. Fasilitas yang dimiliki SDN Banyuasih 3 tidak selengkap dan sebaik sekolah lain. Peralatan sekolah yang mereka pakai pun seadanya. Namun, mereka memiliki kebahagiaan yang lain. Alam berbaik hati menyediakan lingkungan yang indah untuk mereka.

SDN Banyuasih 3 terletak di Kecamatan Cigeulis, pantai barat Pandeglang. Kawasan ini memang dikenal sebagai destinasi wisata yang menawan. Sebut saja Tanjung Lesung atau Taman Nasional Ujung Kulon. Deretan pantai karang maupun pantai berpasir membentang di sepanjang pesisir Pandeglang. Gradasi air laut dari hijau toska menjadi biru muda membuat mata menjadi manja. Akses jalan yang buruk justru membawa dampak positif tersendiri. Hanya sedikit wisatawan yang mau bersusah payah berkunjung ke sana sehingga kebersihan dan keaslian alam betul-betul terjaga.

Lanskap pesisir barat Pandeglang

Siang itu setelah menyelesaikan beragam kegiatan bersama tim Dompet Dhuafa dan Sekolah Guru Indonesia sejak pagi, kami mengajak murid-murid SDN Banyuasih 3 menginap semalam di sekolah. Mereka diizinkan pulang sejenak untuk menyiapkan bekal dan perlengkapan lain. Beragam pertanyaan muncul.

“Pak Guru, bawa beras nggak?” muncul pertanyaan dari salah satu murid.
“Pak Guru, boleh bawa kasur sendiri?” murid lain tidak mau kalah.
“Pak Guru, kalau sholat Dhuhur dan Azhar nya dijamak boleh tidak biar mudah?” tanya seorang murid yang rumahnya persis di samping sekolah.

Bersama guru-guru SGI, saya dan rekan-rekan relawan mengajak anak-anak itu bermain di pantai yang ada tepat di halaman belakang sekolah. Beberapa games sudah disiapkan. Salah satunya adalah bermain roleplay di mana murid-murid diminta berperan sebagai penghuni hutan.

Seorang pengajar memberikan instruksi, “Anak-anak, Bu Guru pilih pemeran penghuni hutan ya. Kamu jadi rusa, kamu jadi harimau, kamu jadi gajah”. Tiba-tiba ada anak yang berseru, “Tapi Bu Guru, ini kan di pantai. Tidak ada binatang-binatang seperti itu”. Lalu hening.

Berlanjut permainan lain. Murid-murid dibagi menjadi dua kelompok. Secara bergiliran setiap anak dari masing-masing kelompok ditutup matanya dengan kain. Teman-teman sekelompok lantas memberikan instruksi agar si anak yang ditutup matanya dapat mencapai tempat yang di seberang barisan. Tim yang paling dulu mencapai tujuan itulah yang menang. Ada saja anak yang usil. Dari saling dorong, memasang perangkap untuk membuat teman lain terjatuh, sampai memberi petunjuk yang menyesatkan sehingga anak yang ditutup matanya bukannya mencapai titik finish tetapi malah jalan terus menuju pantai.

Bermain peran

Mencari titik finish

Kami bermain hingga petang menjelang. Mentari mulai terbenam. Saya menyiapkan kamera di atas karang mencari komposisi yang bagus untuk slowspeed photography. Senja adalah golden time yang dinanti para pemburu foto. Langit sedikit mendung, tetapi justru membuat suasana makin syahdu. Lamat-lamat adzan berkumandang dari mesjid. Seorang anak menarik tangan saya sembari berkata, “Ayo pulang, Kak. Sudah magrib”. Saya spontan berkata, “Lho ini sebentar lagi sunset. Pemandangannya bagus. Kamu nggak pengen lihat matahari terbenam?”. Dia menjawab singkat, “Bosen”. Ah iya, saya baru ingat. Keindahan laut berlatar senja adalah sesuatu yang dapat mereka nikmati setiap hari. Sejenak saya iri dengan kemewahan yang mereka miliki.

Menjelang terbenam

Malam datang, keceriaan berlanjut. Kami menyiapkan api unggun di tepi pantai sembari membakar ikan. Anak-anak berinisiatif membantu mengumpulkan kayu bakar. Api menyala diikuti nyanyian dari anak-anak. Kami menyiapkan kejutan untuk mereka. Lampion. Sekitar dua puluh lampion kami rangkai dan siap diterbangkan. Namun rupanya angin di pantai terlalu kencang. Lampion yang kami terbangkan gagal mengudara. Kami punmemindahkan lokasi api unggun ke halaman sekolah. Tak perlu waktu lama hingga api unggun siap dan anak-anak duduk melingkar di halaman sekolah. Beberapa lampion kami siapkan dan kami biarkan anak-anak menyalakan parafin untuk menerbangkan lampion. Kali ini berhasil. Beberapa lampion terbang menerangi langit malam. Saya berdoa dalam hati, semoga seperti lampion itu, cita-cita anak-anak SDN Banyuasih 3 dapat terbang tinggi menembus langit sembari memancarkan cahaya.

Mengakrabi malam dengan api unggun

Membantu anak-anak menyalakan lampion

Saat anak-anak mulai istirahat di peraduan, saya dan beberapa rekan masih terjaga. Kami melanjutkan obrolan ringan mengenai kegiatan yang telah kami lakukan sebelumnya. Tingkah polah dan celoteh anak-anak SDN Banyuasih 3 terekam jelas. Kisah mereka membuka mata kami bahwa masih banyak anak yang membutuhkan perhatian dan bantuan untuk pendidikan yang lebih baik.

Esok paginya, anak-anak mengajak kami ke lapangan golf. Ternyata tak jauh dari sekolah mereka ada hamparan lapangan golf dengan rumput yang masih terpelihara dan terpangkas rapi. Dulu lapangan golf itu sering disinggahi para pejabat Orde Baru setelah bertetirah di Pulau Umang yang terletak tepat di seberangnya.

Ada sebuah danau di tepi lapangan golf. Anak-anak segera melepas kaos dan ramai-ramai melompat ke air danau yang bening. Mereka berlomba berenang hingga ujung danau. Ada sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi. Mereka bergantian memanjat pohon itu. Begitu sampai di dahan tertinggi, satu per satu mereka melompat ke air. Lepas dan tanpa beban berbagi tawa. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh jauh dari keramaian kota. Mereka bukan anak-anak yang memiliki kesempatan menonton televisi setiap hari. Mereka tidak memiliki fasilitas internet untuk mengakses game online. Mereka juga tidak menggenggam aneka rupa gadget pintar dengan beragam hiburan. Namun mereka memiliki kebahagiaan yang sesungguhnya. Bermain bersama teman sebaya di ruang terbuka. Sebuah kemewahan yang sudah jarang dimiliki anak-anak saat ini.

Melompat dari pohon ke danau

Mendadak saya teringat lagu Sahabat Kecil yang dinyanyikan Ipank. Lirik lagu yang menjadi soundtrack dalam film Laskar Pelangi itu begitu tepat menggambarkan keceriaan anak-anak di depan saya.

Tak pernah terlewatkan dan tetap mengagumi-Nya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli
Melawan keterbatasan walau sedikit kemungkinan
Takkan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Bahagia itu sederhana

Saya menepi untuk merekam keceriaan anak-anak itu dalam hati. Mereka memiliki kebahagiaan yang tak akan terganti. Kebahagiaan dalam deretan pantai indah untuk bermain dan berburu ikan karang. Kebahagiaan dalam hamparan lapangan golf yang bebas mereka gunakan untuk bermain sepak bola. Kebahagiaan dalam beningnya air danau untuk saling adu cepat berenang. Ada banyak hal yang tak terbeli tetapi mampu mereka miliki.

(Terimakasih)

Aneka permainan disiapkan untuk anak-anak SDN Banyuasih 3

Mengingatkan untuk segera ke mesjid

Asyik mencari kerang

Malam di Cigeulis

Sedikit atraksi

Menerbangkan cita-cita

Halaman belakang sekolah

Santai di pantai

Renang suka-suka

Kapan lagi bermain sepak bola di lapangan golf

Mengikuti instruksi teman

Mereka memiliki hal yang tak akan pernah terbeli : kebersamaan bersama teman sebaya

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *